Alex: Charlotte, I read about this father and son in Florida. It’s terrifying.
Alex: Alex, apa kamu sudah baca berita tentang ayah dan anak di Florida itu? Benar-benar bikin ngeri ya.
Charlotte: Was that the story where they fired seven shots at a car?
Charlotte: Tentang mereka yang menembakkan tujuh peluru ke sebuah mobil itu, kan?
Alex: Yeah! They thought a woman was a thief because of a motion alert.
Alex: Iya! Begitu muncul peringatan deteksi gerakan, mereka langsung mengira seorang wanita sebagai pencuri.
Charlotte: But she was just sitting in her car. She hadn't even approached the door.
Charlotte: Padahal wanita itu cuma duduk di dalam mobilnya. Dia bahkan tidak mendekati area teras rumah mereka.
Alex: Exactly. The person on the Ring camera was just a neighbor delivering a package.
Alex: Betul sekali. Ternyata orang yang tertangkap kamera itu hanyalah tetangga yang sedang mengantar paket.
Charlotte: Seven shots because of a package delivery? That is pure paranoia.
Charlotte: Menembak tujuh kali gara-gara pengantaran paket? Itu sudah masuk kategori paranoia yang parah.
Alex: It is crazy how these cameras make us see threats everywhere.
Alex: Mengerikan sekali bagaimana kamera-kamera ini bisa membuat segala sesuatu di sekitar kita terasa seperti ancaman.
Charlotte: Professor Kiley Seymour says our brains go into a hyper-alert state when monitored.
Charlotte: Menurut Profesor Kiley Seymour, saat kita tahu sedang diawasi, otak kita akan berada dalam kondisi yang sangat waspada.
Alex: So we basically turn into detectives just by looking at a screen?
Alex: Jadi, maksudnya hanya dengan melihat layar saja, kita bisa merasa seolah-olah menjadi seorang detektif?
Charlotte: Worse. We start seeing threats that are not actually there.
Charlotte: Bahkan lebih buruk lagi. Kita mulai menciptakan ancaman yang sebenarnya tidak pernah ada.
Alex: I bet people use those apps to spy on each other too.
Alex: Orang-orang pasti menggunakan aplikasi seperti itu untuk saling memata-matai juga, kan?
Charlotte: They do. MIT's Media Lab found people use them to unfairly target minorities.
Charlotte: Tentu saja. Studi dari Media Lab MIT menunjukkan bahwa aplikasi tersebut terkadang digunakan untuk menargetkan kaum minoritas secara tidak adil.
Alex: That is horrible. It is like high-tech gatekeeping for neighborhoods.
Alex: Wah, parah sekali. Rasanya seperti menggunakan teknologi canggih hanya untuk mengontrol lingkungan sekitar.
Charlotte: It is weird. 72 percent of Americans say they trust their neighbors.
Charlotte: Yang aneh adalah, 72 persen warga Amerika mengaku mereka mempercayai tetangganya.
Alex: Wait, then why buy the camera? That makes no sense.
Alex: Tunggu sebentar, kalau begitu buat apa beli kamera? Itu kan kontradiksi sekali.
Charlotte: Maybe we only trust them because we know the cameras are watching.
Charlotte: Mungkin mereka percaya bahwa tetangganya bersikap baik hanya karena merasa ada kamera yang mengawasi.
Alex: So the camera actually kills the real trust?
Alex: Jadi pada akhirnya, kamera-kamera inilah yang merusak kepercayaan yang sebenarnya?
Charlotte: Precisely. It makes us feel more isolated and suspicious in our homes.
Charlotte: Tepat sekali. Hal ini justru membuat orang merasa lebih terisolasi dan penuh curiga, bahkan di rumah sendiri.
Alex: Oof. So how do we stop being so paranoid?
Alex: Duh, kalau begitu bagaimana cara kita lepas dari rasa cemas seperti itu?
Charlotte: Expert Daniel Cox says we should just try talking more.
Charlotte: Seorang pakar bernama Daniel Cox menyarankan untuk memperbanyak obrolan langsung.
Alex: Like, actual human conversation? That sounds almost too simple.
Alex: Maksudnya benar-benar bicara antarmanusia? Kedengarannya sangat sederhana sampai hampir tidak masuk akal.
Charlotte: He says small talk about the weather builds more trust than any camera.
Charlotte: Katanya, obrolan ringan seperti membahas cuaca justru bisa membangun kepercayaan lebih kuat daripada kamera apa pun.
Alex: I should probably go say hi to my neighbor then.
Alex: Kalau begitu, mulai sekarang saya harus mencoba menyapa tetangga saya.
Charlotte: Just don't shoot at them first!
Charlotte: Boleh saja, asal jangan langsung main tembak ya!